Malam semakin pekat, pecah membelah langit malam, perlahan bintang-bintang berguguran menyisakan kenangan, sementara aku masih sibuk menganyam kata untuk sebuah nama.
Untuk Sebuah Nama
"Aku tahu semua ini tak akan abadi tapi tak ada salahnya bila aku merangkai kata untukmu, cukup sebagai penawar rinduku.
Aku tahu perlahan rasa itu gugur satu persatu tapi tak akan semudah itu hatiku melepasmu walau ku tahu kau akan melepasku--Karena ku tahu aku bukanlah yang utama dalam hidupmu.
Aku sadar, Tuhan itu Maha Adil dan Maha Bijaksana. Maka dari itu kuserahkan sebongkah hati ini kepadaNya,
Kuserahkan sepenuhnya jiwa dan raga ini kepadaNya,
Biarlah Tuhan yang menuntun tubuh kecil ini merangkai sketsa terindah dalam hidupku.
Meskipun kelak semuanya hanya akan menjadi seuntai kenangan, aku berharap tali persaudaraan kita tak berakhir, tali silaturahim kita tetap terjaga--karena hati kita telah menyatu dalam tali kisah persahabatan ilahi. Bukankah itu akan menjadi keindahan yang lebih islami. :-)
Oh iya... Terima kasih telah mengukir sejuta warna dalam hidupku!
Semoga kau temui sosok yang terindah dalam hidupmu, sosok seorang hawa yang senantiasa mengisi hari-harimu dengan kebahagian! Allah senantiasa menuntunmu! Barakallah fikum!:-)"
Muruyama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar