Aku melangkah tanpa cinta. Aku berharap cinta itu datang menghampiriku melalui secangkir teh.
Aku butuh secangkir teh hangat untuk melangkah. Tenggorokan ini terlalu kering, perut ini terlalu kosong untuk menyelipkan canda pada sengatnya surya.
Aku mengadu pada kain lusuh agar Bunda membuatkanku secangkir teh, tapi kain itu mengabaikanku. Aku menaruh harapan pada setiap titik kancing kemejaku, setiap kancing kuusapkan harapan. Tapi Bunda tak mendengar jeritan kancing kemejaku. Aku ingin Bunda menyeduhkan teh hangat untukku, meraba hatiku melalui secangkir teh.
Hingga mentari melambung tinggi tak ada secangkir teh untuk hari ini. Padahal Aku tak meminta teh bercangkirkan kristal. Hari ini tetap indah, masih ada secangkir-cangkir teh dihari esok. Aku yakin, Bunda selalu meraba hatiku bahkan di sepertiga malam. :-)
Aku mengadu pada kain lusuh agar Bunda membuatkanku secangkir teh, tapi kain itu mengabaikanku. Aku menaruh harapan pada setiap titik kancing kemejaku, setiap kancing kuusapkan harapan. Tapi Bunda tak mendengar jeritan kancing kemejaku. Aku ingin Bunda menyeduhkan teh hangat untukku, meraba hatiku melalui secangkir teh.
Hingga mentari melambung tinggi tak ada secangkir teh untuk hari ini. Padahal Aku tak meminta teh bercangkirkan kristal. Hari ini tetap indah, masih ada secangkir-cangkir teh dihari esok. Aku yakin, Bunda selalu meraba hatiku bahkan di sepertiga malam. :-)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar