Coretan Dinding

"...kata Shakespeare apalah arti sebuah nama, tapi bagiku nama adalah doa. Indah Purnama; nama yang melambangkan eksistensi Tuhan. Karena-Nya aku masih melangkah mengarungi samudera ilahi tanpa batas, karena-Nya aku ada..."

Sabtu, Desember 17, 2011

Ketika Bersama Beliau yang Aku Panggil Mama

Baru saja bangun dari tidur siang yang singkat. Ruangan ini terasa gelap, sunyi, dan hanya suara merdu rintik hujan. Ternyata hujan telah mengguyuri kotaku sejak aku tertidur. Itu yang aku tahu setelah bangun. Dan karena hujan, aku jadi tahu mengapa ruangan ini gelap. Ternyata beliau sengaja menutup pintu rumah agar ruang tamu kami tidak terkena percikan air hujan. Ya, itulah beliau yang selalu menjaga kebersihan rumah kami. 



Sebenarnya aku tak ada niat untuk tidur siang. Aku ingin menemani beliau menghabiskan siang ini. Kebetulan siang ini hanya ada kami berdua di rumah. Kami telah bersepakat dan berencana untuk membincangkan masa depanku di teras rumah bersama ramuan es teh manis buatanku. Hanya saja saat aku menunggunya, aku tertidur. Tak ada kesal ataupun mimik marah dari wajahnya setelah aku bangun. Inilah yang aku sangat sayang darinya. Beliau yang selalu mengerti keinginanku meski tak memberitahunya. Kesederhanaan paras , senyum, dan kerendahan hatinya merawatku membuat hatiku luruh ketika aku memandanginya. Apalagi ketika ia sedang tertidur pulas. 

Beliau sangat tegar dan penyabar. Ketika bapak sedang dirundung amarah, ia hanya diam dan jarang untuk menambahkan ocehan ataupun membalasnya. Hingga amarah bapak menyulut, kadang beliau tak mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya. Kesabaran dan kelembutan beliau tiada tara. Darinyalah aku tahu bahwa keindahan dan keelokan itu tak selamnya datang dari sesuatu yang wah. Kerendahan hati dan segala yang kadang dianggap sepele kadang lebih menjadi indah nan elok dihati. Beliau adalah ia yang aku panggi Mama. 

Sebagai ganti dari rencana kami yang gagal di siang hari, kami menghabiskan waktu di teras rumah setelah menunaikan ibadah shalat Magrib sembari menunggu adzan Isya’ dan penghuni rumah yang lain yang masih mengerjakan aktivitasnya atau sedang diperjalanan menuju rumah. Kali ini kami tidak menikmati secangkir teh dingin atau hangat buatanku, tapi a piece of cake dari Holland Bakery yang entah judulnya apa bersama air putih. Kami tahu kalau kedengarannya kurang sreg untuk dipadukan. Tapi kami tetap menikmatinya. Aku pernah membaca judul cake yang sedang kami makan itu di Holland Bakery sewaktu membeli roti moka krim disana, hanya saja aku tak sempat menyimpan di memory otak kanan ataupun kiriku. Kami bukanlah orang kaya yang setiap harinya makan cake olahan Holland. Kebetulan hari ini ada kiriman dari teman perempuan kakakku. Sebut saja ini rezeki atau Jum’at berkah. 

Menikmati cake bersamanya telah terlewatkan dengan sempurna. Hanya saja tak ada santap malam. Bukan karena kami tak berselera ataupun tak ada lauk, tapi sudah kenyang dengan santapan cake di teras rumah. Sebut saja ini diet (baca: dayet). 

Sebelum Jum’at malam ini berlalu, aku ingin menceritakan satu hal tentang bapak dimalam ini. Nah, bapak pulang dengan membawakan oleh-oleh untuk kami. Lagi lagi roti cokelat dan buah kesukaanku. Juga secangkir berita untuk beliau yang tak pernah absen setiap bapak pulang dari tujuannya, rasanya masih panas dan bapak sudah siap menyuguhkannya pada beliau. 



Sebelum tidur, aku menyempatkan belajar kurang lebih 2 atau 3 jam untuk ujian semester besok. Melanjutkan jam belajarku yang terputus siang tadi karena ketiduran saat menunggu beliau. Aku sengaja menyebut porsir belajarku dalam form angka dan menambahkan kata melanjutkan supaya kedengarannya keren. Haha inimi namanya sok. Sekadar lelucon. 

Aku merasa bersyukur atas segalanya. Setiap bagian kecil dari peristiwa hari ini tampak menakjubkan bagiku. 

Tiba-tiba aku teringat kejadian tiga hari yang lalu, Selasa. Itu juga salah satu bahan dari perbincangan kami di teras. Ada anak kelas 11 yang bercerita tentangku pada oranglain. Aku hanya bingung, kenapa ia tahu tentang games uneg-uneg beberapa pekan yang lalu. Sedikit kecewa dengan seseorang yang menceritakan hal itu kepadanya. Siapapun orangnya semoga ia tetap berada dalam lindungan-Nya. Sudahlah, lupakan saja! Mungkin itulah persepsinya tentangku. Aku juga tak ingin mengatakan penilaian mereka –mereka yang aku maksud adalah mereka yang menanggapi diriku- salah. “Antara aku dan kau, ibarat bibir dan pipi. Hanya bibir yang dapat mencium pipi sedang pipi tidak”, itulah sebabnya aku tak ingin mengatakan mereka salah. Mungkin hanya sedikit keliru. Entahlah. Cukup positive feeling. Kata beliau, “janganmi dipikir, Nak!”. Ya, menjadi rumput nan lemah lembut tak luruh dipukul rebut, bagai karang di dasar lautan yang tak terusik dilanda badai. Menjadi samudera yang menampung segala, dan seperti ombak yang selalu bergerak.

Notenya ditulis hari Jum'at, kemarin. :-)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar