Tak ada hal yang lebih menjiwai selain menulis. Menulis, menuangkan rasa dalam aksara. Malam ini, hanya sekadar ingin mengetuk
kembali hati yang selalu mendambakan damai.
Hari demi hari silih berganti. Namun, tak pernah ada jeda
sedetikpun yang memberiku ruang untuk merasakan sejatinya hari tanpa pikulan
beban. Mengapa waktu begitu egois ketika aku ingin rehat sejenak. Padahal aku
hanya ingin menikmati damainya hari, menikmati sisi indahnya dunia dari sisi
lain.
Hati ini terus membawaku berlabuh menembus ruang dan waktu,
terkadang menyiksaku, memaksaku mengais hal yang semestinya tak hadir dalam rantai dan
pola pikir yang sehat. Mungkin saking tak dibatasinya ruang dan waktu,
pikiranku mampu menembus berbagai dimensi waktu. Menembus masa lalu, termasuk
menembus masa depan yang masih gamang. Dan justru membuatku mengabaikan hal yang
seharusnya ada dan mesti ada dalam rutinitasku. Namun, dihambat oleh imaji
waktu yang kadang membawaku terlalu jauh.
Sejauh mata memandang, aku ingin menjumpai persinggahan yang
di dalamnya ada damai walau sejatinya hanya seisakan napas. Mencari pundak yang mampu menerima
dan manampung segala keluh kesahku tanpa pamrih. Namun, rimba dan waktu selalu menjadi tanya.
Terima kasih waktu, kau mengajariku untuk tak berhenti
melangkah..
Terima kasih waktu, walau kadang kau membuatku diam seribu
bahasa..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar