Selasa, 14 Juni 2011
Pekan lalu masih ada cerita indah tentang kita. Namun badai telah menghantamnya, hanya menyisakan puing-puing luka dan kehancuran. Takdir telah berkehendak lain. Cahaya yang sebenarnya telah menuntun dan menunjukkan keindahan dan keajaiban alam ini telah berubah menjadi kobaran api yang membakar hatiku.Simphoni abadi yang dulu kudengar mengalun merdu, kini telah berubah menjadi auman singa dan lebih dasyhat dari ledakan neraka. Kini aku harus siap mendengar nyanyian perpisahan Cahaya itu kepadaku.
Apakah engkau masih akan mengingatku setelah badai ini menenggelamkan perahu cinta kita?
Akankah engkau mendengar bisikan hatiku di keheningan malam?
Apakah engkau merasakan hembusan nafasku di kajauhan sana?
Apakah engkau masih akan mendengar keluh kesahku?
Masihkah kau akan menyimpan impian kita untuk menikmati bulan dan bintang gemintang di angkasa?
Akankah kau mengingat mimpi-mimpi malam kita?
dan Masihkah kau akan mengajakku untuk mengunjungi taman hati itu?
Entahlah!
Jujur, bibir ini tak lagi sanggup berucap, seakan terkunci oleh keadaan yang membisu. Bibirku kaku untuk menyapamu, Kasih. Bibirku telah terkunci oleh keadaan sehingga tidak dapat digerakkan. Dan siksaan yang paling pedih adalah kebisuan, seperti keadaan kita saat ini.
Kini, aku sendiri membendung rasa ini. Khayalku terbuai jauh dan aku terbenam dalam luka. Hanya bulan dan bintang yang akan menemaniku setelah kergianmu dan senyum menjadi penawar lukaku, dan hanya kesunyian menjadi pendamaiku saat ini.
Masih terngiang jelas suara merdumu ketika kau nyanyikan lagu di tengah gelapnya malam, mengantarkanku ke alam mimpi. Entah itu ungkapan perasaanmu atau hanya sekadar nada.
Masih teringat jelas kejujuran yang sempat kau ungkapkan di tengah gelapnya malam. Tapi sayang itu dulu. Semua tak lagi sama.
Masih tersusun rapi janji kita, janji satu untuk selamanya. Tapi kutahu kini tak ada yang abadi.
Kita berbagi rasa, cerita, dan luka, tapi itu tinggal kenangan.
Aku akan merindukan kenangan dan kejujuran itu, dan akan ku rindukan mimpi-mimpi malam yang pernah engkau ucapkan.
Kini, terjawab semua pertanyaanku, ternyata engkau hanya akan menjadi masa laluku.
Kasih, biarkan aku terbang dan jangan halangi aku sebab masih ada sayap cinta yang lain yang memanggil-manggilmu. Biarkan jiwaku beristirahat bersama mereka. Aku pasrah dengan penderitaan dan merasakan tentram dengan duka cita dunia ini. Terima kasih telah kau sempatkan menanam mawar putih di hatiku, walau engkau telah menumbuhkan duri dan semak belukar tapi tak kunjung kusemai duri itu. Cukup mawar putih itu yang ku petik Terima kasih telah menjadi cahaya menakjubkan di mataku, terima kasih telah menjadi simphoni manis di telingaku, dan telah menjadi sayap bagi jiwaku!
Kini, engkau dapat berjalan bebas di jalan kehidupan yang luas bertaburan bunga, engkau bebas untuk berkelana melintasi jagat ini, membawa hatimu sebagai obor untuk menerangi jalan yang engkau lalui, dan engkau dapat memilih perempuan yang menjadi pilihan hatimu, dan membiarkan ia tinggal di hatimu, serta berbagi perasaan tanpa halangan apapaun; siang dan malam.
Aku hanya ingin engkau mengingatku, seolah-olah engkau seorang ibu yang tidak bisa melupakan putranya yang mati saat masih kecil sebelum mampu melihat cahaya.
**Ku mohon pertolongan-Mu ya Tuhan, agar aku mampu menghadapi semua ini, dan tolonglah aku agar selalu jujur dan berbudi luhur hingga kematian menjemputku. Tuntunlah aku mencari kebahgiaan dunia-Mu!
Chinatsu Muruyama
:-)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar