Coretan Dinding

"...kata Shakespeare apalah arti sebuah nama, tapi bagiku nama adalah doa. Indah Purnama; nama yang melambangkan eksistensi Tuhan. Karena-Nya aku masih melangkah mengarungi samudera ilahi tanpa batas, karena-Nya aku ada..."

Rabu, April 04, 2012

Hanya Imajinasi, Tak Perlu Ada yang Merasa


Kata beberapa novelis dunia, jika kau tak mampu menyatakan perasaanmu, tulis dan tuangkan dulu dalam tulisan. Aku sedang menuliskannya, menuliskan perasaanku. Tapi, aku belum begitu pandai untuk merangkai kata, jadi aku menuliskan serangkaian ini semampuku.

Selama ini aku telah menceritakan tentang ia yang ku sebut Sang Petualang dalam beberapa skripta. Aku menyerah dan kehabisan tabungan kata-kata untuk mendeskripsikanmu lagi, Denias. Ya, namanya adalah Denias. Ia yang selama ini kuceritakan yang kunamai Sang Petualangku dalam beberapa catatan kecilku, tapi itu dulu. Kini, Deniasku adalah Denias kita bersama. 

Beberapa hari yang lalu, Aku dan Denias sepakat untuk bersahabat, semesta yang memutuskan kami untuk bersahabat.  Aku tak boleh mengeluh tentang pahitnya teh yang kini tak lagi kau beri gula, karena aku sendiri yang memintanya, dan aku tak boleh mengeluhkan matahari yang kini tak menyinariku lagi jika aku berada di bawah tanah.
Denias, coba beritahu, aku harus bagaimana ketika aku tak bisa melupakan kisah kita? Hari ini saja, biarkan aku sejenak berlama-lama mengingat tentang kita. Bahagianya tertawa bersama bulan dan bintang, lalu melupakan lagi semuanya. Aku hanya ingin ramah-tamah bersama  kenangan kita. Aku tahu bahwa seberapapun rasa ini, kita tak bersama lagi, haruskan aku melepaskan perasaan ini? Kau tahu, Denias, bahwa setelah berminggu-minggu, aku tetap gagal membohongi hatiku kalau aku tak rindu. 

Baiklah, aku mengaku, aku rindu. Dua atau tiga hari yang lalu aku memandangi langit sore berawan dengan semburat jingga-ungu-kelabu bergradasi begitu indah, saat di mana aku melihat lengkungan mejikuhibiniu setengah lingkaran di cakrawala. Mengantarkanku pada sekeping kenangan. Dapatkah kau membuat rinduku juga hilang ketika sapamu tak lagi datang? 

Denias, ada masa dimana aku merasa melangkah menjauh darimu itu terlalu berat. Tapi, kini mau tak mau harus kulakukan. Harus ku tekankan bahwa kini kita sahabat. 

Apa lagi yang harus kutuliskan? Sebentar. Aku belum terbiasa menulis, jadi aku tulis apa yang ada di pikiranku. Untuk itu, aku harus berpikir dulu.

Mmmm...
Apa kabar? Kalau boleh jujur, aku ingin mendengar suaramu bernyanyi.  Apalagi ketika aku mendengar lagu favoritmu dan tiba-tiba saja secara otomatis, aku memutar rekaman apa pun tentangmu di ingatanku. Seketika kalut. Ah sudahlah, ilusi! Andai menghapus nama seseorang semudah menekan tombol delete di handphone, tapi tak sederhana itu.

Ohya Denias, terakhir. Aku memiliki kenangan tentangmu, kau memiliki kenangan tentangku. Bukankah begitu? Sederhananya seperti itu. Denias, maaf ya kalau aku hanya melukiskan luka. Lukamu itu, akan aku baluti dengan caraku tersendiri kelak, yang pasti kebahagiaan akan datang menyambut harimu yang pernah kutaburi luka. Segelap dan sedingin apa pun malam, pagi akan selalu datang. Begitu juga dengan kebahagiaan. 

Ending text. Malam ini aku akan menyimpulkan bahwa semua yang aku tulis tentangnya adalah hanya imajinasi. Jadi, tak perlu ada yang merasa.

2 komentar:

  1. assalamualaikum salam kenal :)

    ianafifah.blogspot.com

    BalasHapus
  2. Walaikumsalam. Salam kenal kembali. Indah :))

    Selamat datang, Mb' Ian! :))

    BalasHapus