Menjadi manusia lentur, mampu bersahabat dengan semua pihak,
dan memaklumi keterbatasan berpikir dan bertindak setiap orang, bukanlah
perkara mudah. Namun, kita harus sadar bahwa perbedaan adalah anugerah dan karunia
dari-Nya, bahwa sesuatu yang seragam adalah hanya fatamorgana dan bunga kehidupan.
Memaksakan pendapat orang yang satu dengan yang lain untuk
seragam hanyalah pemaksaan yang dapat merusak tatanan dan harmoni yang telah
diatur Tuhan. Kadang , aku memilih untuk diam. Memerhatikan gerak-gerik sekitar
dan siap menerima.
Di dalam diri yang dinamis ini, terdapat jiwa yang penuh dengan
vitalitas untuk mengembarai setiap fase kehidupan. Setiap zona yang penuh
dengan Teka-teki Silang, mencari alpabet yang tepat untuk menyeleraskan kotak
yang satu dan lainnya agar membentuk kata yang selaras dan tidak rumpang. Namun,
masih saja ku jumpai satu dua tiga insan bahkan tak hingga yang sulit menerima
dan menyelaraskan . Mereka yang menjunjung tinggi keakuan, ego, kesombongan,
dan keserakahan. Hingar bingar kehidupan yang kadang membuatku muak [aku tak
dapat membahasakan bagaimana persis rasa itu, karena hanya mampu digambarkan
oleh rasa pula, tak mungkin dapat terlukiskan oleh bahasa verbal].
Tuhan telah menghadirkan berbagai pertanda bahwa tak satu pun
yang sama di dunia ini, bahwa selalu ada dualisme dan tunggal hanyalah
milik-Nya. Tuhan memberi kita perasaan agar peka, memberi sebongkah jiwa dan
kalbu agar saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi dalam perbedaan. Tuhan menciptakan sela-sela di antara jari
manusia agar saling mengisi kekosongan dalam satu ikatan. Andai kata dunia ini
adalah keseragaman, maka kekosongan mengisi kekosongan, tak aka ada yang
namanya proton, electron, dan neutron, dan setiap petikan dan gesekan adalah sama [tak akan tecipta nada pun ritme].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar