Aku yang sampai hari ini masih belajar. Belajar untuk menyikapi
hidup, bersabar, tidak mengeluh, belajar untuk berhenti mengharapkan sesuatu
yang tak pasti, dan pastinya belajar untuk menepis anganku tentangnya. Meski
sesesekali aku ambigu dalam memahami setiap rasa yang benam dalam jiwaku
tentang hidup ini.
Entah angankukah yang terlanjur melampaui ruang atau pikiranku yang terlanjur kalut. Sudahlah! Aku hidup memang untuk belajar. Termasuk belajar untuk mencari kebenaran yang hakiki akan ke-ambigu-an ku. Tapi, kadang nalar ini menjalar. Apakah ini ambigu atau memang aku yang bodoh! Apalagi ketika aku merindu, aku bahkan tidak tahu, apakah aku merindukan sosok yang mungkin jiwanya telah hinggap di raga yang lain, ataukah merindukan sosok yang raganya tak lagi di sini? Ataukah semua itu hanya sebatas kekata yang merembesi hidupku? Ah jari jemariku tak mampu lagi menguraikannya, gigi geligiku mulai tilu karena tak mampu menuturkannya. Yang pasti aku akan tetap belajar.
Entah angankukah yang terlanjur melampaui ruang atau pikiranku yang terlanjur kalut. Sudahlah! Aku hidup memang untuk belajar. Termasuk belajar untuk mencari kebenaran yang hakiki akan ke-ambigu-an ku. Tapi, kadang nalar ini menjalar. Apakah ini ambigu atau memang aku yang bodoh! Apalagi ketika aku merindu, aku bahkan tidak tahu, apakah aku merindukan sosok yang mungkin jiwanya telah hinggap di raga yang lain, ataukah merindukan sosok yang raganya tak lagi di sini? Ataukah semua itu hanya sebatas kekata yang merembesi hidupku? Ah jari jemariku tak mampu lagi menguraikannya, gigi geligiku mulai tilu karena tak mampu menuturkannya. Yang pasti aku akan tetap belajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar