Mentari hari ini harusnya dapat ku eja dengan sempurna, menikmati
indah rindangnya embun sebelum mentari seutuhnya memanggang bumi. Tahukah kau,
aku melewatkannya tanpa rasa. Entah pagi ini kemana jiwaku berlabu hingga
menikmati pesona embun pagiku terasa kacau. Derai hawa embun pagi yang
dinginnya biasa menyentuh kalbu terasa tak tersentuh sedikit pun.
Tahukah kau jiwa
ku kini berada dalam kegelisahan yang membahana, menimang tumpukan yang bertubi-tubi
yang tingginya menghampiri gunung dan luasnya menghampiri samudera. Aku ingin
bercerita tentang kegelisahan ku kini, tapi tak mampu ku membahasakannya.
Secangkir kegelisahan itu ku namai galau. Dari dasar hati yang paling dalam
ketahuilah bahwa aku berada dalam dilematis. Oh masa depan, seperti inikah yang
namanya hidup dan perjuangan? Harapan yang terus ku pupuk (mungkin) mulai merapuk
dan aku takut.
Aku tahu, embun pagi yang terlewatkan tadi menertawai keadaanku
yang kacau. Catatan harianku yang biasanya penuh dengan keriangan, kini terisi
hiruk pikuk. Demi Tuhan, aku takut! Mentari, bakar dan bangkitkanlah bara
mimpiku. Yakinkan aku bahwa aku pasti bisa! Aku yakin, kegalauanku akan
didengar dan diterjemah Tuhan sesegera karena aku tahu God alyaws listening and
understanding. :-)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar