Kini dia hanyalah sesosok mayat, sesosok tubuh di dasar
sebuah tanah –pusara-. Walaupun sudah lama sekali ia menghembuskan nafas
terakhirnya dan jantungnya telah berhenti berdetak, tapi tak seorang pun mampu
melupakannya. Wajah, kening, dan pelipisnya hancur, tulang selangkanya patah,
dan matanya penuh darah. Aku bahkan
tidak yakin akan hal itu dua tahun lalu. Aku merasakan sensasi dari wajah
orang-orang yang kucintai yang tak mampu berkutik. Melukis kesedihan yang amat
mendalam pada bagian diriku yang baka, tulang belulangku terasa remuk
menyaksikan wajah yang berlumuran darah yang akhirnya berujung pada sebongkah
kepiluan dan ketiadaan. Lambat laun aku
mulai terbiasa dengan ketiadaannya.
Kini, kehidupannya telah kekal berpadu dalam alam kubur.
Enak kali baca ceritanya
BalasHapus