Jika setiap elegi adalah Dia dan
Mereka, itu bukan pintaku. Keadaan yang membusur, meronta, dan membutuhkan imaji
sebagai pelampiasan. Ketika itu, bercerita pun diktum tak menyenangkan. Khatam dari keadaan
yang membusur dengan cara mencipta elegi, agar dapat mencitrakan keadaan yang
sesungguhnya karena mulut tak mampu berucap huruf vokal, pun konsonan.
Mendagi keadaan dengan berelegi
lebih menyenangkan. Karena tak pernah menanyakan ‘apa, siapa, mengapa, dan
bagaimana’ (awal kalimat yang membosankan). Dengan seperti inilah, mungkin aku akan jauh
dari kata daif.
Dia mengasumsikannya sebagai sebuah
distorsi, terserah! Mereka mengasumsikan ku pengkhayal, masa bodoh! Tapi,
mustahil bila Mereka berasumsi. Itu karena aku telah memutuskan untuk berahasia,
merahasiakan kumpulan elegiku darinya. Cukup kau, Dia, dan Yang Maha Tahu yang
mengetahui hal ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar