Coretan Dinding

"...kata Shakespeare apalah arti sebuah nama, tapi bagiku nama adalah doa. Indah Purnama; nama yang melambangkan eksistensi Tuhan. Karena-Nya aku masih melangkah mengarungi samudera ilahi tanpa batas, karena-Nya aku ada..."

Senin, Maret 19, 2012

Jika Setiap Elegi Adalah Dia dan Mereka

Jika setiap elegi adalah Dia dan Mereka, itu bukan pintaku. Keadaan yang membusur, meronta, dan membutuhkan imaji sebagai pelampiasan. Ketika itu, bercerita  pun diktum tak menyenangkan. Khatam dari keadaan yang membusur dengan cara mencipta elegi, agar dapat mencitrakan keadaan yang sesungguhnya karena mulut tak mampu berucap huruf vokal, pun konsonan.

Mendagi keadaan dengan berelegi lebih menyenangkan. Karena tak pernah menanyakan ‘apa, siapa, mengapa, dan bagaimana’ (awal kalimat yang membosankan).  Dengan seperti inilah, mungkin aku akan jauh dari kata daif. 

Dia mengasumsikannya sebagai sebuah distorsi, terserah! Mereka mengasumsikan ku pengkhayal, masa bodoh! Tapi, mustahil bila Mereka berasumsi. Itu karena aku telah memutuskan untuk berahasia, merahasiakan kumpulan elegiku darinya. Cukup kau, Dia, dan Yang Maha Tahu yang mengetahui hal ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar