Diam-diam jarak telah menyelinap diantara kita. Tanpa kusadari aku telah kehilangan. Semakin aku belajar melupakan, semakin aku takut. Takut kehilangan. Dan sekejap semua itu menjadi nyata. Aaah tuhan, perasaan macam apa ya kau tancapkan ini? Kumohon, kembalikan bibir, senyum dan wajah merah delimaku yang penuh ceria. Aku tak ingin terlihat seperti perempuan lemah.
Kini aku harus belajar melupakan.Mengeja kepingan luka menjadi rentatan masa lalu. Menghapus sulaman rindu yang pernah ada. Cukup! Aku lelah. Aku ingin mengungkapkan resahku. Aku butuh ketenangan.
20 Juni 2012
Untukmu,
Semua orang mungkin tahu bahwa perempuan lebih peka dengan perasaan
dibandingkan otak atau logika. Mungkin juga itulah sebabnya sampai sekarang aku
masih belum mampu melupakan tentang kita yang lalu-lalu. Sebagian perempuan
mungkin malu mengakui perasaannya. Dan diantara sebagian itu akulah
diantaranya.
Tapi kini aku harus berani dan tegas mengakuinya secara lantang bahwa aku
pernah jatuh cinta. Dalam Islam, mungkin kedengarannya tidak lebih dari sebuah
aib ketika seorang wanita mengungkapkan perasaannya. Tapi Tuhan tidak pernah
mengatakan salah ketika hambanya jatuh cinta. Tolong, berhenti menggeluti dan
menggerogoti ketenanganku. Aku benci perasaan ini, jujur! Aku hanya ingin kau
tahu itu. Ketenanganku terganggu. Terserah menilai note ringkas ini adalah
sebuah catatan bodoh tak bernilai, itu hakmu! Kau harus tahu, aku benci
perasaan ini. Kurasa aku telah salah menempatkan perasaanku, tapi aku tak dapat
mengingkarinya. Saat ini aku hanya butuh ketenangan. Dan ketenangan itu ada
ketika beban di pundakku luruh, ketenangan itu ada ketika catatan tentang
refleksi perasaanku ini telah usai. Karena kurasa penting untuk kusampaikan.
Mau bilang ini bodoh? Boleh saja kau menertawaiku. Aku tak peduli, saat ini aku
ingin tenang mengukir masa depan, mewujudkan cita. Aku rindu masa laluku yang
penuh tawa yang di dalamnya tak kujumpai kecemasan dan kekhawatiran seperti
sekarang ini.
Aku tak pernah tahu alasan mengapa aku dulu memilih lingkaran kisah ini.
Aku tak pernah tahu mengapa aku mencintai sosok seorang penikmat tembakau. Nasi telah menjadi bubur. Ini salahku.
Terima kasih telah mengajariku tentang keindahan lewat sebuah
kesederhanaan, tentang keindahan bulan, senja, dan semua panorama alam yang
sebelumnya tak pernah kujumpai. Yang di dalamnya kutemukan keagungan Tuhan.
Terima kasih pula kepingan luka dalam yang sebelumnya tak pernah kujumpai.
Kepingan itu menjariku untuk tegar. Dan terima
kasih kau pernah membuatku semangat.
Tolong! Tolong, berhenti memperlihatkan emoticon
senyum itu. Emoticon itu hanya kenangan, emoticon itu hanya akan membuatku
benci akan masa lalu yang pernah ada. Tolong, berhenti mengucapkan mimpi yang
indah. Itu hanya akan menghantui malamku. Tolong berhenti care, itu hanya akan
membuatku terus mengharap. Dan tolong, jangan lagi mengungkapkan kejujuran yang
bagiku berlebihan. Itu hanya akan membuatku kecewa ketika kutahu itu sekadar kekata
basi, bukan kejujuran sejati. Jangan memaksa keadaan menunjukkan bahwa
diam-diam dalam hening dan beningnya hati ada rajutan emosi diantara kita yang
mulai mengkristal mengikat jiwa. Aku takut dengan rajutan itu. Sungguh.
Terakhir, tolong jika kau temui catatan ini, jangan pernah ungkit-ungkit
lagi. Semoga mengerti! Tapi satu, aku terlalu yakin
bahwa kau akan menememuinya. Mungkin kau tak lagi mencari-cari tentangku.
Semoga hari-harimu selalu bahagia. Aku hanya ingin melihatmu menjadi laki-laki
terbahagia. Semoga masih kau selipkan namaku dalam setiap doamu.
Ahhh legah. Menyeruput tuts depan monitor bersama tubuhku yang ceking bebankupun berkurang. Aku tak perlu khawatir pangeran mana yang Allah kirimkan untukku, bila memang kesempatan itu ada sebelum aku menjadi tawanan kematian. Aku yakin tak ada rencana tuhan yang tak pernah indah.
Rasanya sebagian besar orang pernah merasakannya, dan semua akan sirna dengan berjalannya waktu. Semangat sobat hehehee....
BalasHapusjadi inget beberapa tahun yang lalu ketika masih merasakan kegalauan penantian panjang akan belahan jiwa, yup benar kata anak rantau, semua orang pernah melewati fase ini, dan itu berarti satu langkah lebih maju
BalasHapusSetujuuuu jg dgn anak rantau ^^
BalasHapusMemang pada akhirnya yang mengobatinya adalah waktu.
Tenang...tenang, masih bnyk fase yg harus dilewati. Kalo kata kotak sih "pelan-pelan saja" hehe...
Insya Allah, wanita yang baik akan mendapat laki2 yg baik. Itu janji Allah.
Oh iya, usul....tulisan blognya kekecilan kayaknya nih, butuh di perbesar kyknya.
BalasHapusJadi susah bacanya, ndah >___<
mba namax jugaperasaan semua pasti memilikinya, dan sebuah kewajaran kalau kitajtuh ahti pada lawan jenis, karena bersama dengannya lah dapat menentramkan hati kita, juga karena berada dekatnya lah kita bisa lebih dekat dengan Sang Kholiq,,,
BalasHapusjika mba sudah jatuh hati padanya ungkapkan lah, karena mngungkapkan rasa padanya ga berdosa koks, n kalau perlu ajak kluarga mba n dia saling silaturahmi agar lebih jelas lagi hubungan ini,,, cieeeeeeeee
wah jadi ceramah sya,, ya gitu aja sich,,
nice sharing, oh ya izin follow, and add FB mba,,,
dan sekarang saya lg merasa bgt ada diisi tulisan ini :) sangat berasa...
BalasHapuskayaknya akhir2 ini banyak sobat bloggies yang lgi dilema yah??? hhmm itu dilema bukan sih ato galau??? hehehehhe
BalasHapussmangat selalu sobs... :)
semangat sob...yakin aja nanti dapat yg lebih baik
BalasHapusasiik.. OK, bisa memahami lah saya.. indah nian ya...
BalasHapusyang bagian atas mengalir sukaaa =)
BalasHapusyang di bwah kekecilan deh belum semua di baca matanya cape..
setuju dengan mas Uzay,
BalasHapussemoga terkabuldengan apa yang diharapkan
wah, dulu juga pernah seperti ini ...
BalasHapusalhamdulillah, udah 'sembuh' ,,hehee
semangaat yaa, insha allah makin bijak lagi dlm mengatur perasaan :)
cinta itu give and give :p
BalasHapusIndonesian Strong from Home