Coretan Dinding

"...kata Shakespeare apalah arti sebuah nama, tapi bagiku nama adalah doa. Indah Purnama; nama yang melambangkan eksistensi Tuhan. Karena-Nya aku masih melangkah mengarungi samudera ilahi tanpa batas, karena-Nya aku ada..."

Selasa, Juni 26, 2012

Setandan Surat Untuk Umi dan Abi

Ini tahun keduaku di perantauan. Selama di Jogja, aku ngekost bareng sahabatku yang kebetulan asli anak Jogja. Orangnya santun, bersahabat, agamais, sudah begitu lembut. Darinyalah aku belajar banyak tentang  agama. Meskipun jilbab yang kukenakan saat ini belum seterbungkus dia, tapi aku sangat berterima kasih. Oh iya, dia juga tempat curhatku, pijar kepercayaanku utuh padanya. Orangnya dapat dipercaya, maka dari itulah aku tak meragukan lagi kepercayaanku padanya. Namanya Aini. 

"Ra, aku istirahat duluan ya, aku capek," celetuknya dengan nada lemas. "Iya, duluan saja. Mimpi yang indah, Ai!". Balasku ringkas. Aku masih sibuk menuliskan setandan surat untuk Umiku di kampung. Rencananya aku akan mengirimnya besok lewat kantor pos. Aku sudah mengabari Bagas, sahabatku di kampung yang bekerja di kantor pos. Dan minta tolong untuk mengantarkan suratku ke Umi.

Ini memang tahun keduaku di perantauan. Aku rindu. Mungkin tiga tahun lagi aku akan kembali ke kampung. Menyeruput wajah Umi Abiku dan memperlihatkan togaku.  Aku tak ingin pulang ke kampung halaman sebelum toga tegak di kepalaku. "Aku bersumpah, Umi, Abi!" teguhku dalam hati, atas nama Allah dan demi kasih sayang kalian aku tak akan menyiakan perantaun ini.

20 Agustus 2010
Assalamu alaikum Wr. Wb..
Salam rindu,
Umi, Abi, apa kabar? Semoga sehat wal afiat dalam lindungan-Nya. Ini mungkin kesekian kalinya aku mengirimkan surat untuk Umi dan Abi di rumah yang selalu menanyakan kabar. Atau kalau bukan menanyakan kabar, aku bercerita tentang kegiatan-kegiatan kampusku. Jangan bosan ya, Umi.. Abi..Kali ini beda, Mi, Bi.. Aku ingin menceritakan ramadhanku yang sepi. Ini tahun keduanya kita tidak sahur bareng. Tapi meskipun jarak memisahkan kita, ketahuilah, Umi, Abi, bahwa anakmu ini selalu rindu. Insya Allah hati kita selalu dekat, Umi, Abi. Kalau aku sudah sarjana, kita akan kembali sahur bersama. Wassalam, anakmu Zahra.

Bagas mengantarkan dengan telaten setiap surat yang aku tujukan untuk Umi dan Abiku. Itu yang aku tahu, sebab selalu ada balasan yang telaten pula.

Suatu ketika, aku jatuh cinta. Aku menceritakan hal ini kepada Aini. Kalau bukan Aini siapa lagi. Tapi, aku selalu terbayang amanah Umi agar tidak menjalin hubungan yang lebih dengan seorang laki-laki. "Zahra, pokoknya Umi mau kamu jadi anak yang salehah, ibadahnya lancar, pulang ke kampung halaman dengan gelar sarjana, jangan pacar-pacaran dulu, Nak. Umi sama Abi mau kamu fokus dengan kuliahmu selama di Jogja," itu yang terekam lekat-lekat hingga saat ini. Perkataan Umi yang paling tidak bisa kulupakan sewaktu pamit dan mencium tangannya. 

21 Desember 2010
Bismillahirrahmanirrahim..
Surat ini aku tujukan khusus untuk Umi. Jangan sampai Abi membacanya. Aku hanya ingin curhat, Mi. Anakmu yang baru saja 19  tahun ini jatuh cinta. Salah ya, Umi? Kalau Zahra jatuh hati pada seseorang yang pribadinya sangat baik, sopan, cerdas, dan berwibawa? Dia setahun lebih tua dari Zahra, Mi.. Karena memang dia adalah seniornya Zahra di kampus. Tapi, jangan khawatir, Umi, aku masih tetap Zahra yang dulu, amanahmu akan Zahra jaga. Dua, tiga, hari, mungkin perasaan ini akan hilang, Mi..

Tapi baru kali ini tidak ada balasan dari Umi.

30 Desember 2010
Umi, aku sengaja mengirimkan surat dalam jeda waktu yang sangat singkat. Ini masih tentang ia, Mi.. Aku tidak tahu mau melampiaskan kegundahan ini kepada siapa. Aini, sahabatku yang aku sering ceritakan pada Umi dan Abi, mengikuti pengaderan organisasi. Dia sibuk. Umi, aku belum berhasil menghapus perasaan ini. Maafkan kelemahan dan kedhaifan anakmu tanpa sengaja jatuh hati. Mungkin Abi akan mencaci Zahra ketika tahu bahwa anak gadis satu-satunya sudah mulai mengenal cinta. Tapi, tidak, Mi.. Zahra masih berstatus teman. Malahan Zahra menjadi semangat mengikuti kegiatan kampus. Oh iya, Umi.. Alhamdulillah baru-baru ini Zahra diberi amanah  menjadi ketua himpunan. Doakan ya, Mi.. Zahra bisa mempertanggung jawabkan amanah ini dengan baik. 

Kian hari demi hari aku semakin dekat dengan Dani. Dani mengajarkan banyak hal tentang keindahan lewat sebuah kesederhanaan. Tentang keindahan bulan sabit dan senja. Bahkan ia sering menceritakan pengalamannya. Tanpa sengaja kami melontarkan isi hati kami. Saling mengungkapkan rasa dan bagiku ini kesalahan. "Tuhan, kenapa jujur?" Aku memang tahu bahwa tak ada yang lebih puitis ketika berbicara tentang kebenaran, tetapi kenapa harus saat sekarang ini kebenaran itu kami ungkapkan.

25 Januari 2011
Dear Umi,
Umi, entah Zahra harus bagaimana untuk menghapus jejak perasaanku kepada seniorku itu. Zahra diajari banyak hal tentang kehidupan. Mungkin kalau aku ceritakan pada Umi, Umi akan mengerti tanpa Zahra jelaskan panjang lebar tentang perasaan Zahra. Oh iya, Umi.. Tolong doakan ya, sebentar lagi Zahra final test.. Zahra sangat butuh rujukan doa dari Umi dan Abi..

27 Januari 2011
Umi, kenapa Umi tidak pernah membalas surat yang Zahra kirim. Apa Umi marah mengetahui kalau Zahra jatuh hati? Sungguh, Umi.. Perasaan Zahra tidak lebih, kedekatan Zahra pun tidak lebih, hanya sebatas pesan singkat, dan bertatapan matapun dengan senior Zahra itu baru sekali. Aku masih ingat perkaataan Abi, bahwa zina dalam islam banyak macamnya, maka dari itulah aku tak ingin perasaan ini  menjadi zina, dan tatapan ini menjadi zina. Zahra akan membatasi perasaan ini jika memang Umi marah..

31 januari 2011
Asaalamu alaikum Wr Wb..
Apa iya, Umi marah? Atau Abi juga marah karena membaca surat dari Zahra? Umi, Abi, maafkan Zahra kalau memang Umi dan Abi marah. Apalah arti semua doa yang Umi lantunkan kalau ternyata terbesit kesal di hati Umi hanya karena perasaan Zahra saat ini. Tunggulah kabar girang dari Zahra bahwa kedekatan Zahra dengan senior Zahra itu tak ada lagi. Oh iya, Umi, Abi, besok hari pertama final test. Doamu kunantikan, Mi, Bi.

15 Juni 2011
Umi, Abi, apa kabar? Aku sengaja lama mengirimkan surat untuk Umi dan Abi di kampung. Aku menunggu surutnya perasaan Zahra pada senior Zahra itu. Oh iya, Umi, Abi, namanya Dani. Sejauh mata memandang, kedekatan Zahra memang bisa dibilang dekat sampai sekarang ini. Tapi tidak lebih, Mi, Bi. Tidak lebih dari semangat dan tentang pengalaman-pengalaman hidup. Bahkan beberapa nilai Zahra dapat nilai A semua karena semangatnya. Umi sama Abi masih marah, ya? Kenapa surat Zahra selalu diabaiakan?

15 Juli 2011
Menunggu sebulan lebih itu bukan waktu yang singkat, Umi, Abi. Balasan suratmu tak kunjung datang. Memang sabar bukanlah perkara yang mudah. Tapi, sampai kapan Zahra harus bersabar. Apa dengan pengabaian seperti ini, Zahra harus bertahan? Umi, Abi, Zahra rindu..

10 Oktober 2011
Umi, Abi, masih ingat tidak, hari ini hari kelahiran Zahra. Umur Zahra sudah 20 tahun. Zahra dapat banyak ucapan selamat dan doa dari teman kampus Zahra. Bahkan ada yang menghadiahi Zahra novel, kotak pensil, buku catatan kecil, dan kaset. Kira-kira Umi sama Abi doanya apa ya? Kemarin aku dapat surprise dari Dani, Umi.. Ayo tebak Zahra diikasi apa, Mi? Zahra dikasi al-qur'an mini. Nanti Zahra perlihatkan ya, Umi, Abi.. Zahra sebentar lagi naik semester enam, itu artinya Zahra sebentar lagi sarjana, Mi.. 

10 Desember 2011
Ya Allah, Zahra rindu balasan Umi sama Abi.. Sedalam itukah kemarah Umi dan Abi atas perasaan Zahra? Zahra sudah tidak dekat lagi dengan senior Zahra itu, Mi, Bi.. Tenanglah, Zahra sudah jarang berkomunikasi.. Kalau memang hanya karena perasaan itu Umi dan Abi tak lagi membalas surat Zahra, aku bisa mengakhiri kedekatanku denganya. Aku lebih sayang Umi, Abi, ketimbang sosok ia yang sederhana itu..

Kedekatanku dengan Dani memang semakin hari semakin tak terdeteksi. Diam-diam jejaring jarak mulai merajut diantara kami. Meskipun sebenarnya aku tak pernah mengharapkan jejaring dan rajutan itu, tapi kurasa Dani perlahan menerimanya. Mungkin juga Dani sudah melupakanku. 

Aini sejak pengaderan organisasi, ia tambah sibuk dengan kegiatan organisasinya. Bahkan ia tertinggal banyak mata kuliah. Sekarang Aini mengambil program semester pendek. Aini, semangat!

Januari, Februari, dan akhirnya Maret. 
Ya, Maret.. Aku mendapat kiriman surat dari kampung, sayang bukan balasan surat dari Umi dan Abi. Ternyata Bagas, sahabatku di kampung.

13 Maret 2012
Assalamu alaikum, Zahra..
Kabarmu sehat, bukan? Aku harap demikian. Oh iya, selamat 20 tahun! Harusnya aku memberi ucapan ini bulan Okteber tahun lalu. Sebelumnya aku minta maaf atas kiriman suratmu syang ejak 21 Desember 2010 tak pernah lagi sampai ditangan Umi dan Abimu. Tepatnya sejak kau mulai mengenal yang namanya cinta. Aku hanya cemburu membaca suratmu itu, yang ketika kutau bahwa ternyata kau jatuh cinta. Bukan Umi pun Abimu yang kesal, tapi aku. Bahkan aku pernah menanyakan pada Umi dan Abimu bagaimana jika Zahra jatuh cinta di perantauannya, Umi dan Abimu menjawab dengan segala kerendahan dan ikhlas, dia tidak melarag selama perasaan itu tidak menjerumuskan kepada hal yang salah. Sekali lagi maaf, Ra.. Aku cemburu!

NB: Jogja; karena lebih populer dengan Kota Pendidikan. Dan akhirnya selesai juga cerpennya.Cerpen perdana di 2012. Masih kaku. Butuh masukannya, tolong! Sepedas dan sepahit apapun itu :-)

16 komentar:

  1. asik mbak indah masih berkirim surat
    lewat pos.
    boleh lain kali bercerita serunya mengirim surat lewat pos
    :)

    BalasHapus
  2. sepertinya harus di budayakan ini..

    BalasHapus
  3. kok keren gitu mbak, sekarang kan udah jamannya email,. mungkin kalo kirim surat lebih cepet lewat email kali ya mbak .. heheheh

    BalasHapus
  4. memang lebih asyik berkirim surat Mbak. saya sesekali masih melakukannya untuk ibu saya.

    tapi emang anak perempuan bisa ya curhat dalam begitu ke umi-nya? OK, ini pelajaran buat saya, untuk kepentingan pendidikan anak-anak saya.

    BalasHapus
  5. cerpen perdana yang bagus :D ,
    tapi itu ada lanjutannya ga?

    akhirnya zahra sama bagas?

    BalasHapus
  6. akhir yang membuat pembaca menjadi penasaran dengan kelanjutan cerpennya

    BalasHapus
  7. iihh bagas koq buka2 surat orang siih, ga sopan :D

    BalasHapus
  8. jadi kangen masa2 kuliah di jogja.. hiks!

    BalasHapus
  9. tak ada yang bisa lengkap di dunia ini, tanpa restu orangtua, meski hanya lewat selembat kertas surat... keep blogging, moga sukses terus

    BalasHapus
  10. woaalaah ini cerpen to mbak, kirain beneran ?
    bagus
    kalau kerap nulis pasti akan terasah juga.
    begitu mbak
    salam

    BalasHapus
  11. wah jadi kangen sma ummiiee n abiie drumah nich,,
    semuaberkat semangatmerek sya bisa tegar berada di sini, mnuntut ilmu dan menuntut koneksi yg baik agar bisa ngblog,,

    BalasHapus
  12. wah jadi kangen sma ummiiee n abiie drumah nich,,
    semuaberkat semangatmerek sya bisa tegar berada di sini, mnuntut ilmu dan menuntut koneksi yg baik agar bisa ngblog,,

    BalasHapus
  13. Jadi kangen masa-masa surat-suratan sama adek >.<
    Postingan ini beneran ngingetin gimana dulu gampang banget buat ngumpulin prangko. Skarang susah bener.

    Btw, menurutku, cerpen perdananya gag kaku, kok. Cobak dikirim ke media aja, barangkali bisa muncul ^^

    BalasHapus
  14. Mbak, saya sering komen tapi kayaknya masuk kotak SPAM ya..

    BalasHapus