Jauh sebelum aku mengenalnya
senyum itu telah ada, bahkan jauh sebelum ia menamaiku teman. Aku bahkan tak
pernah menyangka bahwa sosok sepertinya yang telah memberiku inspirasi.
Sedetikpun tak pernah terpikirkan akan ada orang yang memberiku pertanyaan yang kedengarannya easy listening tapi membutuhkan hard answer. Ia pernah bertanya “kenapa suka senyum?” dan orang itu adalah dia yang ku kenal tiga tahun lalu yang sosoknya sangat jauh dari pencitraanku—pencinta lawas nan klasik— selama ini. Padahal dulu aku sekadar senang memainkan tuts handphoneku dengan berbagai emotions tanpa ada harapan pun maksud yang lebih.
Jauh sebelum ia yang membangkitkan tawaku, senyum itu telah ada yang dengan setianya menopang aku untuk tegar, menjadi gelora penyemangat hidupku, dan tetap mencerah meski dalam diam.
Jauh sebelum ia yang memberi warna warni dalam hidupku, senyum itu telah menjadi pelangi dalam ragaku yang menjadikan hari-hariku kian bermakna.
Tapi, senyum itu akan lebih bermakna ketika ia yang membangkitkan tawaku, ia yang memberi warna warni dalam hidupku, turut andil dalam setiap irama skenario kebahagiaanku, dan turut tersenyum.
Tapi, jika senyumnya hari ini telah direnggut oleh orang lain, masihkah ada senyumnya untukku? Jika bahagianya tak lagi kerenaku, masihkah senyum itu untukku?
Sedetikpun tak pernah terpikirkan akan ada orang yang memberiku pertanyaan yang kedengarannya easy listening tapi membutuhkan hard answer. Ia pernah bertanya “kenapa suka senyum?” dan orang itu adalah dia yang ku kenal tiga tahun lalu yang sosoknya sangat jauh dari pencitraanku—pencinta lawas nan klasik— selama ini. Padahal dulu aku sekadar senang memainkan tuts handphoneku dengan berbagai emotions tanpa ada harapan pun maksud yang lebih.
Jauh sebelum ia yang membangkitkan tawaku, senyum itu telah ada yang dengan setianya menopang aku untuk tegar, menjadi gelora penyemangat hidupku, dan tetap mencerah meski dalam diam.
Jauh sebelum ia yang memberi warna warni dalam hidupku, senyum itu telah menjadi pelangi dalam ragaku yang menjadikan hari-hariku kian bermakna.
Tapi, senyum itu akan lebih bermakna ketika ia yang membangkitkan tawaku, ia yang memberi warna warni dalam hidupku, turut andil dalam setiap irama skenario kebahagiaanku, dan turut tersenyum.
Tapi, jika senyumnya hari ini telah direnggut oleh orang lain, masihkah ada senyumnya untukku? Jika bahagianya tak lagi kerenaku, masihkah senyum itu untukku?
siapakah dia sebenarnya ???
BalasHapussalam kenal mbak, pertama kali saya berkunjung.
Hehe.. Teman^_^
BalasHapusSalam balik, tadi sudah ya kunjungan baliknya^___^
salam kenal mbak...
BalasHapustenang mbak senyum itu akan tetap ada, karena itu hak istimewa yang diberikan tuhan...
@EbbY bebek Hehe iyaa Ebby, semoga demikian^__^
BalasHapusJangan panggil mbak, hehe ketuaan padahal saya baru lulus SMA tahun ini. Hehe^__^
terima kasih atas kunjunganya diblog saya
BalasHapussudah saya follback mbak ya :)
@fajar OKee! Sama-sama, Fajar^__^
BalasHapusBukan Mbak ya, ketuaan gan. Hehe^__^
Halo dek,, visit you back? Baru sadar kmu org makassar juga -,- bdohkuuu haha.. Sklah dmna d?
BalasHapus@Ian Afifah Sudarman. Hehe ndapapa, Kak^__^ Baru lulus SMA, kak. Ka Ian kuliah dimana?
BalasHapussenyum itu sesuatu yg sangat hebat,,senyum tanda mesra,senyum tanda sayang, senyuman itu tanda keimanan #np:Senyum by Reihan..:)
BalasHapusselalu tersenyum uat teman2 kita ya agar kita dan dia slalu bahagia..:)
mampir lagi ya..
klik EPICENTRUM
makasih..^_^
@Rizki Pradana hehe iya, senyum itu membuat yang biasa menjedi luar biasa, senyum itu bagian dari sedekah^__^
BalasHapusSip, insya Allah mampir lagi. Just wait 4 Me. Hihi^_^
senyum itu akan selalu hadir, meski berbeda latar wajah, atau bentuknya.. tapi makna senyum akan selalu ada untukmu
BalasHapustetap tersenyum agar harimu selalu indah :)
dan gw tersenym saat selesai baca ini dari bait per bait =)
BalasHapus